
“Sudah saatnya kaum perempuan tidak lagi bergantung pada sistem kompetisi yang harus serba berpihak pada dirinya atau menunggu limpahan suara caleg lain. Menuntut ‘hak istimewa’ dalam kompetisi terbuka justru akan menurunkan marwah perempuan sendiri. Demikian dikatakan Intsiawati selepas pertemuan dengan Kun Setwanto, sekretaris menteri Pemberdayaan Perempuan di Jakarta (3/2/09) lalu dalam rangka persiapan ‘Temu Akbar Perempuan Riau’ yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari nanti.
Ketika ditanya lebih lanjut tentang sistem suara terbanyak yang dianggap merugikan kaum perempuan dalam Pemilu 2009 itu Intsiawati menegaskan bahwa jika hak perempuan dan laki-laki sama maka dalam soal peluang juga begitu. Ini kompetisi terbuka, semua kembali kepada perjuangan individu masing-masing. Untuk berjuang, ungkap Intsiawati, kaum perempuan harus mengandalkan kepercayaan diri sendiri dan bekerja dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Sistem ‘suara terbanyak’ pada Pemilu 2009 adalah tantangan bagi kaum perempuan untuk membuktikan kualitas individu dan jati dirinya di hadapan masyarakat pemilih, imbuhnya.
Tentang persiapan kegiatan Temu Akbar Perempuan Riau, sekretaris Panitia, Otaya Purabalistyani memastikan kesediaan Ibu Menteri Meutia Hatta untuk hadir dalam forum tersebut. Di samping sebagai media konsolidasi caleg perempuan se-Riau, dalam forum yang akan dihadiri oleh berbagai perwakilan organisasi dan gerakan perempuan Riau tersebut menurut Otaya akan mendeklarasikan kampanye ‘Perempuan Memilih Perempuan’. Kegiatan tersebut menurutnya akan ditindaklanjuti dengan sejumlah program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan meningkatkan tingkat elektabilitas para caleg perempuan di Riau.
Intsiawati yang juga akan menjadi salah satu fasilitator forum tersebut menambahkan bahwa lazimnya sebuah arena kompetisi, dalam Pemilu kali ini kaum perempuan dituntut cerdas memanfaatkan posisi dan menyusun tak-tik strategi . Politik bukanlah dunia maskulin dan terpenuhinya keterwakilan perempuan adalah pondasi penting demokrasi. Urgensi partisipasi politik perempuan juga didasarkan atas pertimbangan bahwa jumlah kaum perempuan saat ini lebih besar daripada kaum laki-laki. “Jadi tak salah donk, Perempuan Memilih Perempuan,” kata Intsiawati menutup pembicaraan.