Pekanbaru, utusanriau.com -Peluang Perempuan untuk berpasangan dengan sejumlah kandidat yang akan maju menjadi Cagubri terbuka lebar, demikian dikatakan Gaffar Usman Anggota DPD RI, saat ditemui kemarin di kompleks Parlemen Senayan. Menurutnya faktor keseimbangan gender menjadi salah satu pertimbangan utama di samping akan memperkuat magnet pasangan yang akan bertarung pada Pilgub September nanti.
Dikatakannya pula bahwa sosok perempuan yang muncul nantinya diharapkan juga bisa memenuhi keterwakilan aspek geografis dan etnis. Jika Cagubnya berasal dari Pesisir, maka dia harus berasal dari daratan. Jika Cagubnya etnis Melayu maka pasangannya dari Minang, atau Jawa, demikian pula sebaliknya. Menurut Gaffar kedua aspek ini tidak dapat dipungkiri karena merupakan realitas di masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan dan menciptakan stabilitas dalam menjalankan roda pemerintahan nanti.
Ketika ditanya tentang siapa saja yang pantas, Gaffar mengungkapkan bahwa saat ini sudah banyak nama calon perempuan beredar media dan nama-nama tersebut menurutnya sudah memadai untuk maju baik sebagai Cagub ataupun Cawagub. Sebagaimana diketahui saat ini sudah beredar sejumlah nama, seperti Hj. Nurliah, Anggota DPR dari Golkar, Intsiawati Ayus, Anggota DPD RI, Anggota DPRD Riau Iwa Sirwani Bibra, dan Hj. Septina Rusli.
Hj Nurliah pada bulan Februari lalu menyatakan siap menjadi pasangan alternatif bersama Ian Siagian, Anggota DPR dari PDIP tapi berdasarkan sebuah sumber info di parlemen, Intsiawati Ayus, merupakan salah satu calon kuat yang dinilai paling cocok dipasangkan dengan Anas Mamun.
Usai RDP antara Partai Golkar dengan DPD RI terkait dukungan Amandemen UUD 1945 akhir Oktober 2012, Intsiawati dikabarkan semakin akrab dengan ARB dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham. Menurut sumber tersebut dikatakan ARB senang dengan sosok Intsiawati yang menjadi salahsatu motor penting DPD RI. ARB juga terkesan dengan program Sosialisasi KUR yang dilaksanakan Intsiawati sejak tahun 2008 di Riau. Sebagaimana diketahui program pengembangan UMKM tersebut berasal dari gagasan ARB ketika menjabat sebagai Menkokesra dan sejalan dengan kampanye ARB sebagai Capres.
Di samping itu, keanggotaan Intsiawati di DPD RI menjadi salah satu indikator penting terkait dukungan yang lebih luas dari masyarakat. Hingga saat inipun dikabarkan Intsiawati aktif yang akrab dengan sejumlah petinggi Golkar, seperti Rully Chairul Azwar, Idrus Marham, Priyo Budi Santoso, dan Indra Jaya Piliang ini mulai tampak aktif membangun dukungan baik di tingkat elit maupun akar rumput. Menurut sejumlah pengamat, pertarungan Golkar di Pilgubri kali dianggap sangat penting untuk mempertahankan posisi Golkar karena Riau merupakan basis kultural suara Golkar. Jika gubernurnya bukan dari Golkar itu artinya kehilangan suara signifikan (rls)
Dikatakannya pula bahwa sosok perempuan yang muncul nantinya diharapkan juga bisa memenuhi keterwakilan aspek geografis dan etnis. Jika Cagubnya berasal dari Pesisir, maka dia harus berasal dari daratan. Jika Cagubnya etnis Melayu maka pasangannya dari Minang, atau Jawa, demikian pula sebaliknya. Menurut Gaffar kedua aspek ini tidak dapat dipungkiri karena merupakan realitas di masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan dan menciptakan stabilitas dalam menjalankan roda pemerintahan nanti.
Ketika ditanya tentang siapa saja yang pantas, Gaffar mengungkapkan bahwa saat ini sudah banyak nama calon perempuan beredar media dan nama-nama tersebut menurutnya sudah memadai untuk maju baik sebagai Cagub ataupun Cawagub. Sebagaimana diketahui saat ini sudah beredar sejumlah nama, seperti Hj. Nurliah, Anggota DPR dari Golkar, Intsiawati Ayus, Anggota DPD RI, Anggota DPRD Riau Iwa Sirwani Bibra, dan Hj. Septina Rusli.
Hj Nurliah pada bulan Februari lalu menyatakan siap menjadi pasangan alternatif bersama Ian Siagian, Anggota DPR dari PDIP tapi berdasarkan sebuah sumber info di parlemen, Intsiawati Ayus, merupakan salah satu calon kuat yang dinilai paling cocok dipasangkan dengan Anas Mamun.
Usai RDP antara Partai Golkar dengan DPD RI terkait dukungan Amandemen UUD 1945 akhir Oktober 2012, Intsiawati dikabarkan semakin akrab dengan ARB dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham. Menurut sumber tersebut dikatakan ARB senang dengan sosok Intsiawati yang menjadi salahsatu motor penting DPD RI. ARB juga terkesan dengan program Sosialisasi KUR yang dilaksanakan Intsiawati sejak tahun 2008 di Riau. Sebagaimana diketahui program pengembangan UMKM tersebut berasal dari gagasan ARB ketika menjabat sebagai Menkokesra dan sejalan dengan kampanye ARB sebagai Capres.
Di samping itu, keanggotaan Intsiawati di DPD RI menjadi salah satu indikator penting terkait dukungan yang lebih luas dari masyarakat. Hingga saat inipun dikabarkan Intsiawati aktif yang akrab dengan sejumlah petinggi Golkar, seperti Rully Chairul Azwar, Idrus Marham, Priyo Budi Santoso, dan Indra Jaya Piliang ini mulai tampak aktif membangun dukungan baik di tingkat elit maupun akar rumput. Menurut sejumlah pengamat, pertarungan Golkar di Pilgubri kali dianggap sangat penting untuk mempertahankan posisi Golkar karena Riau merupakan basis kultural suara Golkar. Jika gubernurnya bukan dari Golkar itu artinya kehilangan suara signifikan (rls)